Sad Sad Sad Sad Sad :'(
Entah sejak
kapan ini mulai menjalari jiwaku. Senyuman, tawa, bahagia. Aku tak tahu kemana
mereka pergi. Kenapa mereka tega meninggalkanku. Aku tak tahu kenapa ini begitu
sakit. Aku membenci semuanya. Semuanya. Aku. Mereka. Apa yang terjadi. Ada apa
denganku?
Aku menyalahkan diriku namun aku juga menyalahkan orang lain. Aku tahu ini salah. Aku tahu ini tidak beres. Aku tahu. Aku hanya tidak peduli. Tidak bisa peduli. Aku merasa naif dan munafik. Aku merasa jahat. Aku merasa buruk. Berusaha sekuat apapun, aku tetap begini. Kapan bisa berubah? Aku menunggu.
Aku menyalahkan diriku namun aku juga menyalahkan orang lain. Aku tahu ini salah. Aku tahu ini tidak beres. Aku tahu. Aku hanya tidak peduli. Tidak bisa peduli. Aku merasa naif dan munafik. Aku merasa jahat. Aku merasa buruk. Berusaha sekuat apapun, aku tetap begini. Kapan bisa berubah? Aku menunggu.
Berpikir positif,
tapi selalu terpatahkan dengan mereka yang ada di sekelilingku. Tidak ada—sama sekali—yang
mengerti aku. Atau, aku yang tidak mengerti mereka. Aku berharap, sejak awal
mereka tidak menyukaiku. Mereka tidak peduli denganku. Jadi sekarang tak ada
yang perlu kusedihkan. Kuharap aku tidak punya rasa. Jadi aku tak perlu susah. Bahagia?
Aku lupa rasanya seperti apa. Aku merasa kehilangan banyak hal. Kenapa semua terlihat
berlebihan? Kenapa bagi kalian semua ini terbaca hiperbola? Kenapa bagiku inilah adanya?
Aku bukan orang
yang akan meluapkan ini ke fb atau sejenisnya. Tapi kini, aku tak punya SATU
ORANG PUN yang kurasa tepat untuk membagi ini. Padahal aku perempuan dan
seperti yang lain, aku tak bisa memendam ini sendiri. Aku bahkan tak berpikir
ada yang membaca ini. Namun setidaknya aku merasa ini telah kukeluarkan. Aku membaginya
pada ‘another me’ yaitu blogku.
Aku tak tahu apa
ini ada hubungannya dengan aku yang menyatakan diriku patah hati. Bayangkan,
aku tak pernah mendekati orang yang kusuka. Aku tak pernah ingin orang yang
kusuka itu tahu perasaanku. Ini kusimpan dalam-dalam. Dia juga orang yang
tertutup untuk masalah seperti ini. Jadi aku seharusnya tidak patah hati,
karena aku tahu dia tidak suka siapa-siapa. Seharusnya. Tapi naluriku sudah berbicara.
Dia menyukai seseorang dan kuputuskan, bahwa itu bukan aku. Secara otomatis aku
mengikat hatiku. Aku tak bisa tidak sedih melihat wajahnya. Entahlah.
Atau mungkin
karena teman-teman dekatku, yang aku tidak ingin mereka tetap seperti itu. Aku
ingin mereka berubah. Aku ingin memberi tahu mereka, tapi aku tak bisa. Itu sudah
pernah kulakukan. Tapi merka tidak memberi respon baik. Mereka tersinggung. Aku
malas jika harus melalui saat-saat itu. Aku tak tahan jika mereka terus begitu.
Tapi mungkin jika kutegur, mereka akan menganggapku berlebihan. Ini perang batin.
Aku jadi tak
peduli dengan diriku. Bibirku tergigit dan rasanya biasa saja. Beberapa orang
menyapaku dan aku hanya diam. Aku lapar tapi aku tak kunjung makan. Aku tak
ingin apa pun kecuali menangis. Tapi aku bukan anak yang mudah mengeluarkan air
mata meski hatiku menangis jadi-jadian. Membuat itu jadi tambah sesak dan
membebani jiwaku.
Satu yang
kuinginkan, aku ingin menangis sepanjang hari di tempat yang tenang, sejuk dan
sepi. Aku ingin menangis hingga terlelap. Aku ingin mengeluarkan energi-energi
negatif ini. Memecahkan gelas dan membangun danau di hatiku. Agar ketika garam
kehidupan dituangkan ke hatiku, tak lagi terasa asinnya. Aku ingin. Namun aku
tak yakin itu akan terjadi. Doakan aku ini bukan tanda-tanda neurotik. Mungkin seharusnya
sejak awal, aku menjadi anak pendiam dan tidak peduli.
Komentar
Posting Komentar